Pages

Tuesday, March 9, 2010

Sejarah Web dan Aplikasi Yang Pernah Ada Sampai Dengan Sekarang

Sebelumnya tulisan yang saya buat mengenai Sejarah Web ini mengambil intisari dari Wikipedia karena setelah saya baca dari buku-buku sejarah web hasil isi dari sejarah web nya sama saja. Jadi, saya hanya membuat referensi dari semua yang saya dapat dan saya satukan dalam tugas tulisan saya ini. Selanjutnya saya akan menjelaskan tentang sejarah web, sebagai berikut :

Penjelajah web
Sumber : Wikipedia Indonesia

Penjelajah web (Inggris: web browser), disebut juga sebagai perambah atau peramban, adalah perangkat lunak yang berfungsi menampilkan dan melakukan interaksi dengan dokumen-dokumen yang disediakan oleh server web. Penjelajah web yang populer adalah Microsoft Internet Explorer dan Mozilla Firefox. Penjelajah web adalah jenis agen pengguna yang paling sering digunakan. Web sendiri adalah kumpulan jaringan berisi dokumen dan tersambung satu dengan yang lain, yang dikenal sebagai World Wide Web.

Sunday, November 22, 2009

Menggali Fenomena Maraknya Hotspot

Sudah bukan hal baru lagi bagi kita saat melihat pengunjung mall dengan antusias melahap berita dari Internet melalui laptop di depannya, dengan hanya ditemani sebotol teh atau camilan. Atau sekelompok mahasiswa yang menghabiskan waktunya di lingkungan kampus demi 'gratisan' Internet setiap hari. Namun jika kita cermati dengan baik, sebenarnya apakah sasaran utama dari penyediaan layanan ini pada ruang publik kita?
---
Memang ada banyak sekali alasan untuk suatu pihak memasang hotspot pada lokal area bisnisnya. Sebut saja kampus, karena institusi pendidikan ini mempunyai tujuan paling ‘mulia’ dalam pemasangan hotspot. Tujuan utama suatu kampus dalam menyediakan layanan hotspot tentu saja untuk memperluas akses civitas akademikanya terhadap informasi global melalui Internet, disamping mungkin juga mengembangkan komunitas e-learning yang mereka miliki. Walaupun tidak bisa dipungkiri juga terselip aspek bisnis dalam motivasinya. Namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah sejauh mana ketepatan layanan ini mencapai sasarannya? Benarkah dalam sebuah kampus, era Internet kabel sudah harus digantikan oleh hotspot. Ataukah hanya sekedar sebagai strategi bisnis dalam persaingan dunia pendidikan yang kian ketat?
Seperti yang kita tahu, sejak banyaknya kampus menyediakan layanan hotspot, memang kampus tersebut berhasil menjadi 'rumah kedua' bagi sebagian mahasiswa. Namun sebenarnya untuk alasan apakah mereka betah berlama-lama tinggal di kampus dengan laptop atau PDA-nya, mungkin harus dikaji lebih dalam. Yang jelas tidak sepenuhnya motivasi mereka untuk 'tinggal di kampus' terkait dengan tugas kampus yang harus dikerjakannya. Banyak diantaranya yang memanfaatkannya sekedar karena 'gratis'. Karena seperti yang diketahui bersama, biaya komunikasi di Indonesia, termasuk untuk koneksi Internet, masih relatif mahal jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Itulah mengapa para mahasiswa ini lebih memilih 'gratis' di kampus, daripada 'bayar' di luar. Tentu saja semua itu sangat rasional.
Pastinya sebuah kampus sudah mempertimbangkan kemungkinan seperti tersebut di atas, sebelum mereka memutuskan untuk memasang hotspot. Jika sudah dapat menduga, mengapa juga mereka tetap memasangnya? Tak lain adalah karena pertimbangan aspek bisnis, karena seperti yang kita tahu, dunia pendidikan pun saat ini merupakan lahan bisnis yang potensial. Untuk dapat bersaing menjadi sebuah perguruan tinggi papan atas, tentunya tak semata kualitas pendidikan yang harus diperhatikan. Aspek fasilitas kampus merupakan salah satu faktor penentu layak tidaknya sebuah perguruan tinggi disebut 'bergengsi'. Bayangkan jika sebuah perguruan tinggi ternama sekelas UGM atau UI tidak mempunyai hotspot. Apa kata dunia? Itulah mengapa saat ini banyak kampus berlomba memperbaiki infrastrukturnya, termasuk infrastruktur IT-nya.
Lalu bagaimana dengan pemasangan hotspot pada suatu pusat keramaian? Seperti yang banyak kita lihat saat ini, banyak ruang publik yang menyediakan fasilitas hotspot. Untuk yang satu ini, alasannya sangat mudah ditebak, tak lain dan tak bukan adalah aspek bisnis semata. Ya, sebuah ruang publik yang menyediakan hotspot pastilah akan menarik bagi para surfer untuk mendatanginya, dan para surfer ini biasanya berasal dari ekonomi menengah ke atas. Ini merupakan suatu nilai tambah bagi proses marketing suatu pusat keramaian. Entah itu hotspot yang bersifat free hingga hotspot yang berbayar sekalipun kenyataannya tetap merupakan hal yang menarik, apalagi untuk kalangan muda di kota-kota besar, yang didominasi oleh pelajar dan mahasiswa dari berbagai penjuru daerah. Tentu saja mereka merupakan target market yang potensial. Hitung saja sudah berapa pusat perbelanjaan maupun hiburan di sekitar kita yang memasang fasilitas ini, mulai dari Mall hingga kafe-kafe, semua berlomba memperlengkapi diri dengan fasilitas ini. Tak lain hanyalah untuk menarik pengunjung sebanyak mungkin untuk memperlancar bisnis mereka masing-masing.
Jadi sebenarnya hal terpenting dari fenomena maraknya pemasangan hotspot saat ini adalah bukan untuk apa mereka memasangnya, namun bagaimana kita memanfaatkannya. Orang yang memakai layanan tersebut hanya untuk sekedar mengetahui gossip artis dan film terkini tentunya tidak akan mendapat manfaat yang sama dengan orang yang memakainya untuk bekerja melihat harga saham di pasaran terkait dengan berita terbaru kebijakan pemerintah. Begitu juga dengan mahasiswa, walaupun sama-sama mendapat akses gratis di kampus, tergantung dengan bagaimana mereka akan memanfaatkannya.

Microsoft Buka Perang Browser dengan Internet Explorer 9


Sebelumnya IE memang menjadi browser dominant di Internet, namun seiring berjalannnya waktu, termasuk setelah Microsoft menaklukkan Netscape dalam perang browser di tahun 1990, maka hal tersebut kemudian memberikan kesempatan kepada rivalnya untuk masuk bersaing dengan Internet Explorer, seperti Firefox yang kini digunakan oleh seperempat surfer web, dan juga Apple Safari yang juga sudah dapat bekerja di Windows seperti di Mac OS X, dan Google Chrome yang terus berimprovisasi membuat web lebih cepat.
Untuk itu, Microsoft kemudian mengumumkan adanya Internet Explorer 9 terbaru dalam event Professionela Developers Conference di Los Angeles. Steven Sinofsky, presiden unit Windows, menunjukkan beberapa perubahan dalam text dan grafis di browser IE9. Microsoft baru memulai mengerjakan Internet Explorer ini sejak 3 minggu lalu, tambah Sinofsky. IE9 akan dibuat mengikuti standard browser web kebanyakan seperti HTML (Hypertext Markup Language) dan CSS (Cascading Style Sheets).
Dalam test Acid3, untuk IE8 memiliki skor 20 dari angka keseluruhan 100, sedangkan IE9 memiliki skor 32, dan angka tersebut akan selalu meningkat, menurut Dean Hachamovitch, general manager Internet Explorer. “Kami membuat IE9 lebih cepat dibandingkan IE8. Untuk itu, kami masih dalam proses pengembangan, terutama untuk bagian JavaScript-nya. Walaupun JavaScript penting, termasuk untuk brand Chrome V8, Firefox TraceMonkey, Safari Nitro, Opera Futhark dan Caracan, namun Microsoft akan menambah aspek lain untuk meningkatkan performance Internet Explorer 9.” ulas Hachamovitch.

Apple Bakal Luncurkan Tablet Seharga 2000 Dollar


Sebuah report dari Digi Times, menyebutkan bahwa Apple akan memproduksi tablet PC $2,000 di tahun mendatang. Apple akan memperkenalkan model tablet 9.7 inch dengan fitur display OLED (organic light emitting diode).
Mengenai hal ini, banyak manufaktur component di Taiwan dan China yang mempublikasikan soal model tablet lainnya yang support dengan display berukuran 10.6 inch, tipe TFT, dan layar OLED kecil, yang rencananya akan diluncurkan mungkin di bulan Februari 2010.
Ezra Gottheil, analis dari Technology Business Research, mengakui validitas mengenai report DigiTimes, namun pihaknya akan menunda peluncuran kedua tablet hingga tahun 2010. Namun, DigiTimes juga menyebutkan harga tablet berbasis OLED ini dengan cost produksi antara $1,200 dan $1,700 untuk pembuatan tablet yang memiliki ukuran display OLED 9.7 inch.

“Hadir dengan harga cukup mahal, tablet Apple ini akan bersaing dengan iMac quad-core, yang pernah menjatuhkan harga MacBook Pro 17 inch.” ungkap Gottheil.